jump to navigation

Tekstur Tanah February 21, 2011

Posted by sin9gih in Mikrobiologi.
add a comment

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dari pasir, debu dan liat (Clay) di dalam kolam. Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah adalah jumlah air dan udara di dalam tanah yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan tenaman. Ukuran partikel tanah sangat penting karena ukuran partikel tanah makin kecil (liat) maka partikel-partikel tanah tersebut akan berkaitan lebih kuat dibandingkan dengan yang berukuran besar (pasir). Hal ini berarti tanah akan didominasi pori-pori berukuran kecil. Demikian juga air dan udara di dalam tanah berada di dalam pori-pori kecil tersebut. Partikel lebih kecil mempunyai luas permukaan lebih luas atau besar dibandingkan dengan yang besar dalam satuan berat yang sama. Dalam berat luas permukaan partikel debu dan 100 ribu kali dibandingkan dengan pasir. Jika luas permukaan tanah meningkat berarti jumlah air dan kokon atau unsur hara yang terabsorbsi (diikat) akan mengikat pula.

Fungsi penentuan tekstur tanah adalah untuk menunjukkan kasar halusnya tanah secara kualitas karena tekstur tanah dapat menggambarkan apakah bahan tanah tersebut kasar atau halus, hal ini dapat dirasakan dengan mengambil sedikit tanah basah diantara jari dan ibu jari, jika ternyata terasa agak halus dan licin maka menunjukkan bahwa tanah tersebut kandungan liatnya relatif cukup tinggi. Pengamatan ini sering dilakukan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman.

Kultur Zooplankton December 6, 2010

Posted by sin9gih in plankton.
1 comment so far

Kultur Zooplankton
Sejarah dimulainya kultur pakan alami dilakukan oleh Allen dan Nelson pada tahun 1910, dengan kulture diatom untuk pakan Invertebrata (Ryther and Goldman, 1975).
Adapun beberapa glongan dari zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami dan perlu dibudidayakan sebagai pakan alami burayak diantaranya adalah :
1. Brachionus sp.
2. Kopepoda (Cyclop sp., Acartia sp.)
3. Diaphanosoma sp.
4. Artemia sp.
5. Cacing rambut
6. Daphnia sp.
7. Moina sp.
8. Larva chironomus
9. Infusoria

(Susanto,2010).
1. Budidaya Infusoria


Infusoria adalah salah satu kelas dari philum Protozoa. Dalam kelas Infusoria ini kita mengenal subkelas Ciliata, yaitu kelompok hewan-hewan bersel satu yang berbulu getar (silia). Beberapa jenis Ciliata yang sering kita dengar adalah Paramaecium caudatum, Colpoda cicullus, Didinium nasutum, dan colpidium campylum.

Infusoria umumnya hidup di air tawar, misalnya di sawah-sawah yang banyak jeraminya. Namun ada juga diantaranya yang hidup di air laut. Makananya terdiri dari bakteri, protozoa lain yang lebih kecil, ganggang renik, ragi dan detritus yang halus. Oleh karena itu Infusoria biasanya menghuni perairan-peraiaran yang tercemar, yang sedang mengalami proses pembusukan yang berat.
Paramecium relatif berukuran besar (80 – 350 mikron). Dengan mata telanjang nampak seperti bintik putih yang berrgerak-gerak. Bentuknya yang mirip sandal sehingga banyak yang menyebutnya binatang sandal. Seluruh permukaan tubuhnya berbulu getar dan dipakai juga sebagai alat gerak, muluitnya berupa lekukan yang terletak pada ujung tubuh yang lancip.
Colpoda tubuhnya sedikit pipih, cembung pada bagian punggung dan datar pada bagian perut. Lubang mulut sel mengrah ke depan dengan dikelilingi bulu getar. Didinium berbentuk agak bulat panjang, dengan bulu getar tersusun dalam rangkaian. Ujung depan tubuhnya mempunyai bangunan seperti krucit yang menonjol. Sedangkan Colpidium berbentuk lonjong dengan lubang mulut sel terletak ditengah-tengah tubuh.
Untuk pengembangbiakan bibit Infusoria (khususnya Ciliata) dapat di jumpai di alam, dengan cara menggunakan pipet panjang, beujung halus dan berbola penyedot yang besar. Karena Infisoria suka bereang –renang bebas di antara akar-akar tanaman air (seperti Teratai dan Eceng gondok), lagi pula ia tidak suka terhadap sinar matahari langsung.

Dengan alat tersebut kita meyedot air langsung pada sarangnya. Air yang telah disedot ditampung dibotol dan diamati di mikroskop apakah terdapat bibit Infusoria atau tidak.Untuk mempermudah pengamatan Ciliata yang bergerak lincah perlu dihambat dengan serabut kapas, serabut kertas lensa, agar-agar, selatin, atau tragakan. Selain itu dapat juga digunakan metil selulose (10 g metil selulose dalam 90 ml air suling). Apabila kita sudah mendapatkan bibitnya selanjutnya dapat kita tularkan dalam media panangkaran.Untuk penangkaran bibit tersebut, kita dapat menggunakan air rebusan jerami. Media tersebut dibuat dengan merebus 70 g jerami kering yang telah dipotong kedalam air suling selama 15 menit. Setelah dingin kita saring dan diencerkan dengan air suling lagi sampai volume 1,5 L.

Selain air rebusan jerami, kita juga dapat menggunkan media lain seperti air rebusan kacang panjang, air rebusan kecambah, air rebusan daun selada, atau air beras. Setelah kita mengetahui media dan bibitnya, maka media yang telah kita buat diencerkan lagi dari 10 ml ke 100 ml kemudian dituangkan ke cawan petri dan bibit Ciliata yang sudah ada kita masukan. Cawan petri ditutup dengan kain sutra dan disimpan ditempat yang gelap dengan suhu berkisar 280 C. Setelah 1-2 minggu biasanya bibit telah berkembang menjadi banyak.

Ciliata yang sudah banyak inilah yang kita gunakan sebagai pakan dari burayak-burayak ikan yang kita pelihara, terutama burayak yang sedang beralih makanan dari fitoplankton ke zooplanktone. Apabila medium bididaya sampai berbau busuk, maka perlu penggantian air. Air yang lama kita buang perlahan dengan selang secara bertahap, yang kemudian kita masukan air baru dengan menggunakan selang juga, sampai volumenya kembali seperti volume awal.

2. Budidaya Brachionus


Branchionus adalah hewan renik panktonik termasuk dalam philum Trochelminthes, kelas Rotatoria (rotifera) subkelas Monogononta, ordo Notomatida, subordo Hydatinia, family Branchiodae. Beberapa jenis yang kita kenal antara lain adalah Brannchionus plicatilis, B. pala, B. angularis, B. mollis, B. kuadratis, dan B. puncatus.

Ukuran tubuhnya antara 50-300 mikron dengan struktur tubuh yang sangat sederhana. Ciri khas yang digunakan untuk penaman Rotatoria atau Rotifera adalah terdapatnya suatu bangunan yang disebut korona. Korona ini bentuknya bulat dan berbulu getar, yang memberikan gambaran seperti sebuah roda, sehingga dinamakan Rotifera.

Secara alami Branchionus suka memakan jasad-jasad renik yang lebih kecil dari pada dirinya. Antara jenis jantan dan betina terdapat perbedaan bentuk yang menylok, dimana yang jantan ukurannya lebih kecil dari betina. Perkembangbiakan secara partenogenesis dan dalam 8-12 hari dapat menghasilkan sebanyak 5 butir telur.

Hewan ini dapat ditemukan diperairan tawar, payau, atau laut yaitu tergantung jenisnya. Penangkapan hewan ini bisa menggunakan plankton net. Setelah didapat kita tempatkan pada tempat pembibitan agar menjadi banyak. Tempat pembibitan kita buat dari air rebusan kotoran kuda atau pupuk kandang lainnya. Mula-mula kita rebus 800 gr kotoran kuda kering kedalam 1 L air. Setelah mendidih selama 1 jam kita dinginkan dan disaring. Air saringan kita encerkan dengan air hujan yang telah di rebus dengan volume dua kali lipat rebusan kotoran kuda. Media yang sudah jadi kita masukkan kebotol ukuran 1 galon dan kita tulari bibit protozoa dan ganggang renik sebagai pakan Branchionus, seelah 7 hari baru kita masukkan bibit Branchionus. Biasanya bibit akan berkembang baik setelah mencapai waktu 1-2 minggu.

Cara lain untuk pembibitan yaitu dengan cara menenmpatkannya kedalam medium air hijau (green water) yang sudah terdapat fitoplanktonnya (Chlorella dan Tetraselmis). Setelah beberapa hari maka akan berkambang menjadi lebih banyak dan siap digunakan sebagai pakan burayak.

3. Budidaya Kutu Air

Kutu air termasuk dalam udang-udangan renik berfilum Arthopoda, kelas Crustacea, subkelas Entomostraca, ordo Phylopoda, subordo Cladocera. Contoh yang terkenal adalah Moina (100-1000 mkron) dan Daphnia (1000-5000 mikron). Diantara udang-udangan lainnya, kutu air termasuk yang paling primitif.

Ciri umumnya adalah bentuknya gepeng dari samping kesampaing. Dinding tubuh membentuk lipatan yang menutupi bagian tubuh pada kedua belah sisinya, sehingga nampak seperti kerang-kerangan. Diatas tubuh bagian belakang pada cangkang membentuk kantong yang berfungsi untuk tempat penmpungan dan perkembangan telurnya.
Kutu air (khususnya Moina dan Daphnia) hidup pada air tawar, jarang yang hidupnya di laut yaitu Podon dan Evadne. Makananya berupa tumbuh-tumbuhan renik dan detritus dengan cara menggerakkan kaki-kakinya yang pipih. Gerakan tersebut menimbulkan arus yang membawa makanan sampai dekat mulutnya.
Hewan ini biasa hidup pada suhu 22-3o C dengan pH 6,6 – 7,4. Umur biota ini dapat mencapai 30 hari dan setiap 2 hari sekali beranak yang kurang lebih jumlanya 33 ekor untuk Moina sedangkan Untuk Daphnia hanya sampai 12 hari dimana setiap 1-2 hari bisa beranak sampai 29 ekor.
Untuk mendapatkan bibit, kita bisa membelinya pada peternak kutu air yang sekarang sudah diperjual belikan. Biasanya pada Balai Budidaya dan Panti pembenihan udang dan ikan.
Untuk mengamati ada tidaknya bibit disuatu perairan, bisa menggunakan lempengan putih yang kita benamkan ke air. Dengan latar belakang putih, kutu air akan tampak seperti kumpulan awan.Pengamatan akan lebih mudah jika kita mengamatinya pada pagi hari yang cerah. Bibit kemudian ditempatkan pada media penangkarang yang terbuat dari air tawar yang sudah dimasukkan potongn jerami kering dan pupuk kandang masing-masing 0.2 kg/m2 tapi ditunggu setalah berwarna kecoklat-coklatan yang mengindikassikan fitoplankton sudah tumbuh pada media tersebut sebagai pakannya.Penangkapan bibit harus pagi- pagi dengan peralatan sebuah seser terbaut dari kain saringan plankton. Garis tengah seser 20-25 cm bertangkai 2 m. Pengamatan kita lakukan disekitar kayu-kayu terapung, tunggul pohon atau tanaman yang sedang membusuk. Setelah kita menemukan tempat hidupnya, kita harus segera menangguknya dengan seser. Pada waktu menagguk, kita lakukan sambil membuat olakan sehingga kutu air yang berada dibawah akan naik keatas.
Hasil tangkapan ditempatkan pada ember berisi air tawar 20 L, karena kutu air sensitif terhadap panas maka kita perlu sedia es batu sebagai pendinginnya. Wadah ditutup dan pada tutupnya diberi lubang-lubang.
Bibit yang kita tangkap segera kita masukkan ke bak penangkaran yang telah kita sediakan. Secara berkala (1-2 kali dalam seminggu) air medianya kita pupuk lagi dengan pupuk kandang dengan ukuran yang sama seperti waktu pertama. Apabila kepadatan sudah mencapai 4000 ekor / L, maka kita sudah dapat memanennya yang biasanya dicapai antara 7-10 hari. Apabila hasil panen kita banyak sehingga tdak habis sekali pakai, maka kita bisa menyimpannya pada lemari es “freezer” bukan refrigerator.

4. Budidaya Artemia

Artemia atau “Brine Shrimp” adalah sejenis udang-udangan primitif yang termasuk dalam philum Anthropoda, kelas Crustacea, subkelas Branchiopoda, ordo Anastroca, famili Artemiidae. Hewan ini hidup planktonik pada perairan berkadar garam tinggi ( antara 15-300 permil). Suhu yang dikehendakipun tinggi (antara 25-30o C) degan oksigen terlarut sekitar 3 mg/Ldan pH antara 7,3 – 8,4.

Artemia dewasa mampu mencapai panjang 1-2 cm dengan berat sekitar 10 mg. Anaknya yang baru menetas (nauplius instar 1) panjangnya mencapai 0,4 mm dengan berat sekitar 15 mikrogram. Secara alami makanannya berupa detritus, ragi laut, bakteri, ganggang renik dan biota lainnya yang ukurannya 50 mikron kebawah.

Perkembangbiakan dengan biseksual dan partenogenesis. Perkembangan pada jenis biseksual harus melalui perkawainan antara betina jantan. Pada kedua jenis perkembangbiakan tersebut bisa terjadi ovovivipar maupun ovipar.
Ovoviviparitas biasaya terjadi pada keadaan lingkungan yang cukup baik dengan kadar garam kurang lebih 150 permil dengan kandungan oksigen yang cukup baik. Sedangkan oviparitas terjadi apabila keadaan lingkungan nya buruk. Telur yang bercangkang tebal itu memang disiapkan untuk keadaan lingkungan yang buruk, bahkan juga kekeringan. Sementara itu embrio yangberada dalam cangkang beristirahat (diapauze), jika kaeadaan sudah menjadi baik kembali maka telur akan menetas menjadi burayak, yang selanjutnya akan hidup normal seperti biasa.
Artemia dewasa dapat hidup hingga 6 bulan, sementara induk- induk betinanya akan beranak atau bertelur setiap 4-5 hari sekali. Setiap kali dapat menghasilkan 50-300 ekor anak atau telur. Anak-anak Artemia akan menjadi dewasa setelah berumur 14 hari.Setelah Artemia meninggalkan sejumlah telur, sementara itu keadaan lingkungan tetap saja memburuk maka Artemia rela untuk mati. Tetapi jenis Artemia tidak akan punah karean apabila lingkungan sudah membaik kembali, telur-telur itu akan beramai-ramai untuk menjadi induvidu baru.
Untuk mendapatkan bibit artemia, kita dapat membeli bibit berupa kista (telur artemia) yang diawetkan di kaleng. Dewasa ini yang sering berkembang di indonesia adalah telur Artemia merk Greatwall dari Cina yang merupakan jenis partenogenesis dan merk Bio Marine dari Great Salt Lake yang merupakan jenis biseksual dari Amerika.
Apabila kita telah mendapatkan telurnya, tahap untuk mendapatkan bibit yaitu kita harus menetaskan telur tersebut terlebih dahulu secara khusus. Anaknya yang baru menetas (nauplius) akan dijadikan sebagai sebagai bibit untuk penebaran.
Untuk menetaskan Artemia kita perlu wadah bening dan dengan alas (dasar) berbentuk krucut, sedangkan ukurannya boleh bermacam-macam mulai dari kapsits 3 L sampai 75 liter. Dengan media air laut biasa (kadar garam kurang lebih 30 permil), jumlah kepadatan telur yang kita tetaskan antara 5-7 g/L. Dengan suhu 25-30o C sedangkan kadar oksigennya harus lebih dari 2 mg/L. Oleh karena itu medianya harus kita udarai, baik dengan blower, kompresor ataupun aerator yang disambungkan dengan selang plastik dan tidak usah menggunakan batu aerasi dengan pengudaraan secukupnya saja. Selain untuk aerator, aliran udara tesebut juga berfungsi untuk mengaduk telur artemia yang berada dibawah agar tersebar merata.
Untuk merangsang proses penetasan kita gunakan lampu TL untuk pencahayaan yang di tempatkan disamping wadah dengan pencahayaan sekitar 1.000 luks. Dalam waktu 24-36 jam setalah pemasukan telur, biasanya telur-telur itu sudah menetas menjadi anak artemia (nauplius). Selagi burayak masih belum perlu makan (kurang dari 24 jam sesudah menetas), harus kita tangkap. Sebelum penangkapan, pengudaraan harus dimatikan terlebih dahulu. Kemudian bagian atas wadah penetasan kita tutup dengn kain atau plastik hitam, sedangkan bagian bawahnya kita sinari. Setelah itu kita tunggu 5-10 menit.
Dengan cara demkian, maka cangkang telurnya yang telah kosong akan mengapung ke permukaan, sedangkan anak Artemia akan mengumpul ke bawah, karena tertarik dengan pencahayaan. Selanjutnya anak artemia kita sedot dan kita tampung agar dan kita cuci (rendam) agar kotoran hilang. Anak Artemia yang sudah bersih itulah yang akan dijadikan sebagai bibit pada Budidaya massal (Herihery,2010).

Faktor Yang Mempengaruhi Kelimpahan Zooplankton December 6, 2010

Posted by sin9gih in plankton.
add a comment

Menurut Davis (1955), kelimpahan zooplankton sangat ditentukan oleh adanya fitoplankton, karena fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton. Silvania (1990) mengemukakan bahwa di perairan fitoplankton mempunyai peranan sebagai produsen yang merupakan sumber energi bagi kehidupan organisme lainnya. Hal ini juga didukung oleh Arinardi (1977) yang menyatakan bahwa kepadatan zooplankton sangat tergantung pada kepadatan fitoplankton, karena fitoplankton adalah makanan bagi zooplankton, dengan demikian kuantitas atau kelimpahan zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya.
Zooplankton akan tinggi di perairan yang tinggi kandungan fitoplanktonnya.Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi yang tinggi dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat tinggi. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya “The Theory of Differential Growth Rate” (Teori Perbedaan Kecepatan Tumbuh) yang dikemukakan oleh Steeman dan Nielsen (1973) yang menyebutkan bahwa pertumbuhan zooplankton tergantung pada fitoplankton tetapi karena pertumbuhannya lebih lambat dari fitoplankton maka populasi maksimum zooplankton akan tercapai beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu.
Selain itu terdapat pula teori yang menerangkan terjadinya hubungan terbalik antara zooplankton dan fitoplankton, teori ini dikenal dengan “Theory of Grazing” yaitu dimakannya fitoplankton oleh zooplankton yang dikemukakan oleh Harvey et. al (1935). Bila populasi zooplankton meningkat, pemangsaan fitoplankton akan sedemikian cepatnya sehingga fitoplankton tidak sempat membelah diri, jika jumlah zooplankton menurun dan menjadi sedikit maka hal ini memberi kesempatan kepada fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga menghasilkan konsentrasi yang tinggi (Davis, 1955 dalam Sinegar ,2010).

Eutrofikasi Perairan December 4, 2010

Posted by sin9gih in budidaya.
add a comment

Pengertian Euterofikasi

Eutrofikasi adalah suatu proses di mana suatu tumbuhan tumbuh dengan sangat cepat dibandingkan pertumbuhan yang normal. Proses ini juga sering disebut dengan blooming. Dengan kata lain merupakan pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 µg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah dimana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik.

Penyebab Terjadinya Euterofikasi

Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini. Melalui penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses eutrofikasi.

Eutrofikasi dapat dikarenakan beberapa hal di antaranya karena ulah manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Hampir 90 % disebabkan oleh aktivitas manusia di bidang pertanian. Para petani biasanya menggunakan pestisida atau insektisida untuk memberantas hama tanaman agar tanaman tidak rusak. Akan tetapi botol – botol bekas pestisida itu dibuang secara sembarangan baik di sekitar lahan pertanian atau daerah irigasi. Hal inilah yang mengakibatkan pestisida dapat berada di tempat lain yang jauh dari area pertanian karena mengikuti aliran air hingga sampai ke sungai – sungai atau danau di sekitarnya. Mengacu pada buku Phosphorus Chemistry in Everyday Living, manusia memang berperan besar sebagai penyumbang limbah fosfat. Secara fisiologis, jumlah fosfat yang dikeluarkan manusia sebanding dengan jumlah yang dikonsumsinya. Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob.

Proses Terjadinya Euterofikasi

Limbah organik kebanyakan akan mengair ke sungai, danau atau perairan lainnya melalui aliran air hujan. Limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif (BAN); dengan proses seperti pada reaksi (3) dan (4):

COHNS + BAN è CO2 + H2S + NH3 + CH4 + produk lain + enerji … ….(3)
COHNS + BAN + enerji è C5H7O2 N (sel MO baru) …..(4)

Kedua proses tersebut diatas mengungkapkan bahwa aktifitas mikroba yang hidup di bagian badan air yang anaerob selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin, PH3 dan komponen fosfor. Asam sulfide (H2S), amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan.

Selain menghasilkan senyawa yang tidak bersahabat bagi lingkungan seperti tersebut diatas, hasil dekomposisi di semua bagian badan air menghasilkan CO2 dan NH3 yang siap dipakai oleh organisme perairan berklorofil (fitoplankton) untuk aktifitas fotosintesa; yang dapat digambarkan sebagai reaksi.

Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Kesulitan fauna karena penurunan oksigen terlarut sebenarnya baru dampak permulaaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan air bertambah terus maka proses dekomposisi organik memerlukan oksigen lebih besar dan akibatnya badan air akan mengalami deplesi oksigen bahkan bisa habis sehingga badan air menjadi anaerob.

Pada badan air yang anaerob dekomposisi bahan organik menghasilkan gas-gas, seperti H2S, metan dan amoniak yang bersifat racun bagi fauna seperti ikan dan udang-udangan. Seperti penurunan oksigen terlarut; senyawa-senyawa beracun inipun dalam konsentrasi tertentu akan dapat membunuh fauna air yang ada.

Interaksi kompleks antara nutrien, fitoplankton dan zooplankton tersebut menyebabkan badan air yang mengalami eutrofikasi pada akhirnya akan didominasi oleh sejenis fitoplankton tertentu yang pada umumnya tidak bisa dimakan oleh fauna air terutama zooplankton dan ikan termasuk karena beracun.

Dampak Eutrofikasi

Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan senyawa beracun dan menjadi tempat hidup mikroba fatogen yang menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan pertumbuhannya. Sampai pada tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan produktivitas perairan, karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan kelimpahannya meningkat. Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton, yang makanan utamanya adalah fitoplankton. Akhirnya karena fitoplankton dan zooplankton adalah makanan utama ikan, maka kenaikan kelimpahan keduanya akan menaikan kelimpahan (produksi) ikan dalam badan air tersebut. Akan tetapi peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air menjadi sangat subur atau eutrofik dan akan merangsang fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang-biak dengan pesat sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut.

Sehubungan dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda. Selain itu setiap jenis fitoplankton juga mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air (Kilham dan. Fenomena ini menyebabkan komunitas fitoplankton dalam suatu badan air mempunyai struktur dan dominasi jenis yang berbeda dengan badan air lainnya.

Selain merugikan dan mengancam keberlanjutan fauna akibat dominasi fito-plankton yang tidak dapat dimakan dan beracun; blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga merugikan fauna; karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen terlarut secara drastis akibat pe-manfaatan oksigen yang ber lebihan untuk de-komposisi biomasa (organik) yang mati. Seperti pada analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya konsentrasi oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan fauna lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat membahayakan fauna air, termasuk ikan. Selain badan air didominasi oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya.

Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui
mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan
hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi,
estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya
sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya

Cara Menanggulangi Eutrofikasi

Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin meningkat terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat, seperti detergen dan limbah manusia, ada juga kelompok yang secara tegas melarang keberadaan fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air. Sebagai implementasinya, lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan penggunaan fosfat, pembuangan limbah fosfat dari rumah tangga dan permukiman. Upaya untuk menyubstitusi pemakaian fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari program tersebut.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut
adalah aktivitas peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi
bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan,
pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin
tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi
dalam sedimen menuju badan air.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari masalah ini adalah :

  • Eutrofikasi adalah suatu proses di mana suatu tumbuhan tumbuh dengan sangat cepat dibandingkan pertumbuhan yang normal
  • Eutrofikasi dapat menyebabkan berbagai dampak, baik yang menguntungkan maupun merugikan
  • Dampak menguntungkan dari eutrofikasi adalah

ü menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan

ü meningkatkan produktivitas perairan

ü peningkatan kelimpahan fitoplankton yang diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton

ü menaikan kelimpahan (produksi) ikan

  • Dampak buruk eutrofikasi adalah:

ü Menyebabkan bloooming

ü menurunkan konsentrasi oksigen terlarut

ü menghasilkan senyawa beracun

ü menjadi tempat hidup mikroba fatogen yang menyengsarakan fauna air

Program miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem air.

PROTOZOA dan ROTIFERA November 21, 2010

Posted by sin9gih in plankton.
add a comment

klasifikasi phylum protozoa berdasrakan  ciri-ciri dan morfologi !


1.  Sub Filum SARCOMASTIGOPHORA

-Superclass MASTIGOPHORA, termasuk flagellates, yang multinukleat dengan banyak garis cillia (seperti flagella) dan kandung kemih pada katak Bergerak dengan flagel (bulu cambuk)     yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan. Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
Fitoflagellata
a. Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat  berfotosintesis. Contohnya : Euglena viridis,  Noctiluca milliaris, Volvox globator.Zooflagellata
b. Flagellata heterotrofik (Tidak berkloroplas).Contohnya : Trypanosoma gambiens, Leishmania

- Superclass OPALINATA, termasuk amuba

2.  Sub Filum SPOROZOA/APICOMPLEXA, termasuk semua parasit Tidak memiliki alat gerak khusus, menghasilkan spora (sporozoid) sebagai cara perkembang biakannya. Sporozoid memiliki organel-organel kompleks pada salah satu ujung (apex) selnya yang dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan inang.
Hidupnya parasit pada manusia dan hewan.
Contoh : Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae,Plasmodium vivax. Gregarina.

3.  Sub Filum CNIDOSPORA, termasuk Nosema

4.  Sub Filum CILIOPHORA, termasuk Ciliata, ada 4 superclass:

—  Hototrichida

—  Peritrichida

—  Suctoria

—  Spirotrichida

Anggota Ciliata ditandai dengan adanya silia (bulu getar) pada suatu fase hidupnya, yang digunakan sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel
Contoh : Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli.

definisi Phylum  porifera !


Porifera merupakan hewan bersel banyak (metazoa) yang paling sederhana. Sebagian besar hidup di laut dangkal, sampai kedalaman 3,5 meter, dan hanya satu suku (familia) yang hidup di habitat air tawar yaitu Spongilidae.

Nama filum ini dari kenyataan bahwa tubuh porifera mempunyai pori-pori. Air beserta makanan masuk melalui pori kedalam rongga di dalam tubuh dari hewan akhirnya keluar melalui oskulum. Air yang telah disaring ini akan dibuang melalui oskulum. Tubuh sponsa terdiri dari dua lapisan sel, diantara kedua lapisan tersebut terdapat bagian yang tersusun dari bahan yang lunak disebut mesoglea. Sel-sel yang membentuk lapisan dalam mempunyai flagea, yang mengatur aliran sel-sel ini dapat ”menangkap” partikel makanan. Bentuk sponsa ditentukan oleh kerangka tubuh. Kerangka tersusun dari spikula. Spikula tersebut dari sel-sel yang terdapat dalam mesoglea. Spikula tersusun dari silika atau kapur (kalsium karbonat). Beberapa sponsa tidak memiliki serabut-serabut yang lentur dari zat yang disebut spongin. Sponsa terdapat di perairan yang dangkal di daerah tropis. Bila sponsa diolah dapat digunakan untuk bahan atau alat pembersih.

system reproduksi dan pencernaan phylum porifera ?


l  Reproduksi :

Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual.Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule.Gemmule disebut juga tunas internal.Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang hidup di air tawar.Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.Reproduksi seksual dilakukan dengan pembentukan gamet (antara sperma dan ovum).Ovum dan sperma dihasilkan oleh koanosit.Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada individu yang sama. Sebagian besar Porifera bersifat hermafrodit, yang berarti masing-masing individu berfungsi sebagai jantan dan betina dalam reproduksi seksual dengan cara menghasilkan sperma dan sel telur.
Pembuahan silang terjadi antara dua spons yang berdekatan. Pembuahan menghasilkan zigot, zigot berkembang menjadi larva berflagel yang kemudian menyebar dari induknya. Jika larva ini menempel pada substrat yang cocok maka akan tumbuh membentuk spons dewasa. Spons memiliki daya regenerasi yang besar. Dengan cara ini spons dapat menggantikan bagian-bagian tubuhnya yang hilang.

l  Pencernaan :

Pada bagian dalam rongga tengah tubuhnya dilapisi oleh koanosit berflagel. Koanosit ini berperan dalam pencernaan makanan. Gerakan flagel akan membangkitkan arus aliran air, dengan demikian makanan masuk dan koanosit memakannya secara fagositosis.


klasifikasi , anatomi, morfologi dan fisiologi porifera !

Klasifikasi Porifera
Berdasarkan atas kerangka tubuh atau spikulanya, Porifera dibagi menjadi tiga kelas.

1.     Kelas Calcarea

Kerangka tubuh kelas Calcarea berupa spikula seperti duri-duri kecil dari Kalsium Karbonat.Calcarea hidup di laut dangkal, contohnya sycon, Clathrina, Leucettusa lancifer. Scypa, Grantia, dan Leucosolenia.

2. Kelas Hexatinellida

Hexactinellida (dalam bahasa yunani, hexa = enam) atau Hyalospongiae (dalam bahasa yunani, hyalo = kaca/transparan, spongia = spons) memiliki spikula yang tersusun dari silika yang mengandung Silikat atau Kersik (SiO2).Ujung spikula berjumlah enam seperti bintang.Tubuhnya kebanyakan berwarna pucat dengan bentuk vas bunga atau mangkuk/ silinder. Tinggi tubuhnya rata-rata 10-30 cm dengan saluran tipe sikonoid.Hewan ini hidup soliter di laut pada kedalaman 200 – 1.000 m.Contoh Hexactinellida adalah Euplectella.

3.    Kelas Demospongia
Kerangka tubuh kelas Demospongia terbuat dari spongin saja, atau campuran spongin dan zat kersik. Misalnya Euspongia sp dan Spongilla sp.

Ciri-ciri morfologinya antara lain:

  • ·tubuhnya berpori (ostium)
  • ·tubuh porifera asimetri (tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial.
  • ·berbentuk seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan

Ciri-ciri anatominya§ antara lain:

  • ·memiliki tiga tipe saluran air, yaitu askonoid, sikonoid, dan leukonoid
  • ·pencernaan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit

perbedaan antara sisitem reproduksi protozoa, porifera , dan rotifera !

- Porifera : Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal. Gemmule dihasilkan menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di air tawar. Secara seksual dengan cara peleburan sel sperma dengan sel ovum, pembuahan ini terjadi di luar tubuh porifera.

- Protozoa : Protozoa dapat mereproduksi dengan pembelahan biner atau beberapa fisi. Beberapa protozoa bereproduksi secara seksual, beberapa aseksual, sementara beberapa menggunakan kombinasi, (mis. Coccidia). Seorang individu protozoon adalah hermaphroditic.

- Rotifera : Reproduksi Rotifera ialah reproduksi dioecious, yaitu individu jantan lebih kecil dari betina , proses kopulasi dengan hypodermic imphregnation ,terdapat 2 macam sperma   :

1    Type pertama berfungsi dalam pembuahan

2   Type kedua berbentuk jarum berfungsi membantu sperma type pertama menembus dinding tubuh betina.

Pada ordo monogonontida dan bdelloid tidak ada yang jantan , hanya menghasilkan telur yang menetas menjadi individu betina. Dihasilkan dua macam telur hasil parthenogenesis yaitu telur amictic dan mictic. Telur amictic bercangkang tipis , tidak dapat dibuahi , diploid dan menetas menjadi individu betina. Sedangkan telur mictic bercangkang tipis, haploid , apabila tidak dibuahi akan menetas menjadi jantan , apabila dibuahi menghasilkan cangkang yang tebal dan resisten terhadap lingkungan yang buruk disebut telur dorman.

(rotifera)

pasca panen ikan Nila (Oreocrhomis niloticus) November 9, 2010

Posted by sin9gih in budidaya.
add a comment

Tenologi pasca pane Nila (Oreocrhomis niloticus)

Ikan nila sangat dikenal oleh masyarakat penggemar ikan air tawar, baik dinegara berkembang maupun negara maju. Menurut Sejarahnya, ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Bogor pada tahun 1969. Setahun kemudian, ikan ini mulai disebarkan ke beberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jendral Perikanan tahun 1972. Nama tersebut diambil dari nama spesies ikan ini, yakni nilotica yang kemudian diubah menjadi nila. Sistematika ikan nila dapat dijelaskan sebagai berikut :

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Pisces

Subkelas : Acanthopterigii

 

Gambar 1.1 ikan nila (googleimage,2010)

uku : Cichlidae

Marga : Oreochromis

Spesies : Oreochromis sp.

Secara alami, ikan ini melakukan migrasi dari habitat alinya yakni dibagian hulu sungai Nil yang melewati Uganda kearah selatan melewati danau Raft dan Tanganyika. Selain itu, ikan nila juga terdapat di Afrika bagian tengah dan barat. Populasi terbanyak ditemukan dikolam-kolam Chad dan Nigeria. Dengan campur tangan manusia, saat ini ikan nila telah menyebar ke seluruh dunia, dari benua Afrika, Amerika, Eropa, Asia, sampai Australia (Amri dan Khairuman, 2008).

Menurut Cholik et al. (2005), ikan nila berwarna keabu-abuan dan dapat mencapai ukuran lebih besar. Ciri-ciri nila adalah sebagai berikut:

- Bentuk badan kokoh/tegap.

- Punggung tinggi.

- Daging tebal.

- Mata besar dan menonjol.

- Garis melintang tubuh sebanyak 8-10 baris.

Menurut Rostini (2007), komposisi kimia ikan nila merah adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Komposisi kimia ika nila

Komposisi Berat Bersih (%)
Air

77,0

Protein 17,8
Lemak 2,8
Abu dan Mineral 1,2 dan 1,2

Proses Pasca Panen Ikan nila

Penanganan hasil panen sama pentingnya dengan teknis produksi lainnya. Betapa banyak hasil itu yang hilang percuma karena keburu busuk sebelum sampai kepada konsumen. Sebagian besar disebabkan oleh penanganan yang salah, tidak tepat dan tidak benar. Mutu uan-perlakuan yang dikerjakan oleh manusia terhadap bahan misalnya cara-cara penangkapan ikan, pengapalan, pendaratan, pengemasan, penyinaran, pencucian, pendinginan, pembekuan, lingkup ini biasanya dengan penanganan pasca panen (Moedjiharto, 2004).

Sesaat setelah ikan tertangkap, dan diangkat dari dalam air akan segera mati karena kekurangan oksigen untuk pernafasannya. Selanjutnya tubuh ikan akan mengalami serangkaian perubahan yang mengarah kepada kemunduran mutu atau penurunan kesegaran, sampai akhirnya rusak atau busuk dan tidak dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi manusia. Tindakan untuk mengawetkan ikan mengolah harus diusahakan seawal mungkin sejak ikan tertangkap (Sumardi, 2000).

Pada waktu ikan ditangkap dan diangkat dari dalam air, ikan tidak langsung menjadi mati. Meskipun keadaan ikan tersebut masih dalam tingkat kesegaran yang maksimal, tetapi biasanya tidak langsung dikonsumsi (Hadiwiyoto, 2003).

 

 

Fase Kemunduran Mutu Ikan

Segera setelah ikan mati, enzim-enzim tertentu aktif mengurai senyawa glikogen menjadi asam laktat hingga ikan mencapai fase rigor mortis (kekakuan setelah mati), diketahui bahwa semakin panjang tahap rigor mortis itu berlangsung (Arisman et al., 1984).

Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), Secara kronologis, proses pembusukan ikan berjalan melalui 4 tahap sebagai berikut:

1. Hyperaemia

Lendir ikan terlepas dari kelenjar-kelenjarnya didalam kulit, membentuk lapisan bening yang tebal disekeliling tubuh ikan. Pelepasan lendir dari kelenjar lendir ini merupakan reaksi alami ikan yang sedang sekarat terhadap keadaan yang tidak menyenangkan.

2. Rigor Mortis

Fase ini ditandai dengan tubuh ikan yang kejang setelah ikan mati. Ikan dikatakan masih sangat segar dalam fase ini. Tahapan ini ditandai oleh tubuh ikan yang mengejang setelah mati akibat proses-proses biokimia yang kompleks didalam jaringan tubuh, yang menghasilkan kontraksi dan ketegangan.

3. Autolysis

Adalah proses penguraian protein dan lemak oleh enzim (protease dan lipase) yang terdapat didalam daging ikan.

4. Bacterial Decomposition

Pada tahapan ini bakteri telah terdapat dalam jumlah yang sangat banyak akibat perkembangbiakan yang terjadi pada fase-fase sebelumnya. Bakteri merusak ikan lebih parah daripada kerusakan yang diakibatkan oleh enzim.

Salah satu masalah yang sering timbul pada sektor perikanan adalah dalam mempertahankan mutu. Mutu ikan dapat terus dipertahankan jika ikan tersebut ditangani dengan hati-hati (carefull), bersih (clean), disimpan dalam ruangan dengan suhu yang dingin (cold), dan cepat (quick). Pada suhu ruang, ikan lebih cepat memasuki fase rigor mortis dan berlangsung lebih singkat. Jika fase rigor tidak dapat dipertahankan lebih lama maka pembusukan oleh aktivitas enzim dan bakteri akan berlangsung lebih cepat. Aktivitas enzim dan bakteri tersebut menyebabkan perubahan yang sangat pesat sehingga ikan memasuki fase post rigor. Fase ini menunjukkan bahwa mutu ikan sudah rendah dan tidak layak untuk dikonsumsi (FAO,1995 dalam munandar et al., 2009).

Hubungan pH dan Mutu Ikan

Menurut Afrianto dan Liviawati (1992), Sebagian besar ikan dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH) berkisar antara 5-9 untuk sebagian besar spesies ikan air tawar. pH yang cocok berkisar antara 6,5-7,5, sedangkan untuk ikan laut 8,3. Pada kolam budidaya fluktuasi, pH sangat dipengaruhi oleh proses respirasi, karena gas karbondioksida yang dihasilkannya. Pada kolam yang banyak dijumpai alga atau tumbuhan lainnya, pH air pada pagi hari biasanya mencapai angka kurang dari 6,5 sedangkan pada sore hari dapat mencapai 8,5. Pada kolam dengan sistem resirkulasi air cenderung menjadi asam karena proses nitrifikasi dari bahan organik akan menghasilkan karbondioksida dan ion hidrogen.

Tabel 1.2 Pengaruh pH terhadap ikan

Kisaran pH Pengaruh Terhadap Ikan
4-5

Tingkat keasaman yang mematikan dan tidak ada reproduksi

4-6,5 Pertumbuhan lambat
6,5-9 Baik untuk produksi
>11 Tingkat alkalinitas mematikan

 

Nilai pH dapat menentukan kesegaran ikan. Proses pembentukan energi setelah ikan mati dilakukan secara anaerob dari pemecahan glikogen yang menghasilkan ATP dan asam laktat. Akumulasi asam laktat inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan pH daging ikan. Besarnya nilai pH tergantung pada atau dari jumlah glikogen yang terdapat dalam otot ikan saat mati (Jiang,1998 dalam Suwandi et al., 2008).

Penentuan nilai derajat keasaman (pH) merupakan salah satu indikator pengukuran tingkat kesegaran ikan. Pada proses pembusukan ikan, perubahan pH daging ikan disebabkan oleh proses autolisis dan penyerangan bakteri (Fardiaz, 1992 dalam Suptijah et al., 2008).

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amri, K dan Khairuman, A. 2008. Budidaya Ikan Nila. Argo Media Pustaka. Jakarta.

 

Cholik et.al., 2003. Akuakultur Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa Masyarakat Perikanan Nusantara Taman Akuarium Air Tawar TMII. Jakarta.

 

Hadiwiyoto, S.1993.Teknologi Hasil Perikanan.UGM.Yogyakarta.

 

Moejiharto, 2004. Biokimia Nutrisi Protein Ikan. Universitas Brawijaya. Malang.

Poedjiadi. Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia. Jakarta.

Rostini, I. 2007. Jurnal Perikanan Bakteri Asam Laktas terhadap Masa Simpan Fillet Nila Merah pada Suhu Rendah. http://.www.journal.com. Diakses pada Kamis, 3 Juni 2010.

Sri et.al., 2004. Perkembangan Histamin selama Proses Fermentasi Peda dari Ikan Kembung (Rastrelliger Nuglechis). http://www.journal.com. Diakses pada Kamis, 3 Juni 2010.

 

Suwandi, et.al. 2008. Aplikasi Minuman Ringan Berkabonasi dalam Menghambat Laju Kemunduran Mutu Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). http://www.journal.com. Diakses pada Kamis, 3 Juni 2010.

 

Sudarmadji et al., 2003. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

 

Wulandari et al., 2005. Analisis Mikrobiologi Produk Ikan Kaleng (Sardenes) Kemasan dalam Limit Waktu Tertentu (Expire). http://www.journal.com. Diakses pada Kamis, 3 Juni 2010.

 

Winarno.2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

 

 

 

Bioteknologi November 9, 2010

Posted by sin9gih in Mikrobiologi.
add a comment

PENGANTAR BIOTEKNOLOGI

PENGANTAR BIOTEKNOLOGI

 

Pengertian Bioteknologi

Beberapa definisi dari bioteknologi:

  • Bioteknologi adalah penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa genetika secara terpadu, untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia.

  • Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.

  • Teknologi yang menggunakan fenomena biologi untuk mengkopi dan menghasilkan bermacam-macam produk yang berguna.
  • Bioteknologi adalah tidak lebih dari sebuah istilah diberikan untuk sekumpulan teknik-teknik dan proses-proses.

  • Bioteknologi adalah penggunaan organisme hidup dan komponennya dalam bidang pertanian, pangan dan proses-proses industri lainnya.

  • Aplikasi berbagai teknik yang menggunakan organisme hidup atau bagiannya serta untuk menghasilkan produk dan/atau jasa.

  • Bioteknologi adalah ilmu yang memanfaatkan organisme atau makhluk hidup.

 

Perkembangan Bioteknologi

Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala.

  • Era bioteknologi generasi pertama : bioteknologi sederhana.
    Penggunaan mikroba masih secara tradisional, dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan. Contoh: pembuatan tempe, tape, cuka, dan lain-lain.
  • Era bioteknologi generasi kedua.
    Proses berlangsung dalam keadaan tidak steril. Contoh:
    a. produksi bahan kimia: aseton, asam sitrat
    b. pengolahan air limbah
    c. pembuatan kompos
  • Era bioteknologi generasi ketiga.
    Proses dalam kondisi steril. Contoh: produksi antibiotik dan hormon.
  • Era bioteknologi generasi baru : bioteknologi baru.
    Contoh : produksi insulin, interferon, antibodi monoklonal.

 

Komponen Bioteknologi

  • Gen : DNA
  • Vektor : Berupa plasmid bakteri atau viral ADN virus.
  • Enzim : Terdiri dari enzim Restriksi (pemotong plasmid/ADN) dan enzim Ligase (penyambung ptongan-potongan ADN)

 

DNA dan RNA

DNA (deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribosa nukleat (ADN) merupakan tempat penyimpanan informasi genetik. Menurut Klug dan Cummings 1994, DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetic dan berfungsi sebagai pengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan secara seluler. DNA terdapat dalam nucleus, mitokondria dan kloroplas. DNA juga dapat diartikan sebagai material khas kromosom yang tidak terdapat pada bagian lain atau pada bagian lain yang tidak terdapat konsentarsi yang cukup untuk dapat memperlihatkan warna (Robert Feulgen). DNA juga merupakan serangkaian molekul tersusun dari basa purin (adenine dan guanine) dan pirimidin (timine dan cytosine) serta gula dan phosphate sebagai bahan dasar penyusun gen.

Struktur DNA. Pada tahun 1953, Frances Crick dan James Watson menemukan model molekul DNA sebagai suatu struktur heliks beruntai ganda atau yang lebih dikenal dengan heliks ganda Watson – Crick. DNA merupakan makromolekul polinukleotida yang tersusun atas polimer nukleotida yang berulang – ulang, tersusun rangkap, membentuk DNA haliks ganda dan berpilin ke kanan. Setiap nukleotida terdiri atas tiga gugus molekul yaitu:

  1. Gula 5 karbon (2-deoksiribosa).

  2. Basa nitrogen yang terdiri golongan purin yaitu adenin (Adenin = A) dan guanin (guanini = G), serta golongan pirimidin, yaitu sitosin (cytosine = C) dan timin (thymine = T).
  3. Gugus fosfat : Struktur doubel helix DNA (Watson and Cricks, 1953) DNA Sebagai Materi Genetik, DNA mempunyai peran penting dalam transformasi materi genetik, istilah transformasi awalnya digunakan untuk menjelaskan kejadian perubahan genetik dari sel bakteri akibat adanya benda asing yang masuk atau diambil oleh bakteri tersebut. Namum dengan ditemukannya bahwa benda asing tersebut adalah DNA pengertian transformasi disini adalah proses pengambilan DNA asing oleh suatu sel yang mengambilnya melalui proses rekombinasi.

Beberapa pembuktian yang menjelaskan masalah tersebut adalah sebagai berikut :

Percobaan F. Griffith (1928) :

  1. Noncapsulated pneumococcus (non pathogen).
  2. Capsulated pneumococcus: pathogen, mematikan mencit.
  3. Noncapsulated pneumococcus (hidup) + capsulated pneumococci yang telah mati mematikan mencit.

 

Keterangan : Dari kiri ke kanan, galur kasar (tidak mematikan):tikus hidup, galur halus (mematikan):tikus mati, galur halus mati (dipanaskan):tikus hidup, galur kasar dan galur halus mati:tikus mati.

 

Percobaan Griffith, dilakukan pada tahun 1928 oleh Frederick Griffith, adalah salah satu percobaan pertama yang menunjukkan bahwa bakteri dapat memindahkan informasi genetik melalui proses yang disebut transformasi.

Griffith menggunakan dua galur Pneumococcus (yang menginfeksi tikus), galur tipe III-S dan tipe II-R. Galur III-S memiliki kapsul polisakarida yang membuatnya tahan terhadap sistem kekebalan inangnya sehingga mengakibatkan kematian inang, sementara galur II-R tidak memiliki kapsul pelindung tersebut dan dapat dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh inang.

Dalam eksperimen ini bakteri galur III-S dipanaskan hingga mati, dan sisa-sisanya ditambahkan ke bakteri galur II-R. Meskipun tikus tidak akan mati bila terkena baik sisa-sisa bakteri galur III-S (yang sudah mati) ataupun galur II-R secara terpisah, gabungan keduanya mengakibat kematian tikus inang. Griffith berhasil mengisolasi baik galur pneumococcus II-R hidup maupun III-S hidup dari darah tikus mati ini. Griffith menyimpulkan bahwa bakteri tipe II-R telah tertransformasikan menjadi galur III-S oleh sebuah prinsip transformasi yang entah bagaimana menjadi bagian bakteri galur III-S yang mati.

Kini kita mengetahui bahwa prinsip pentransformasi yang diamati oleh Griffith adalah DNA bakteri galur III-S. Meskipun bakteri itu telah mati, DNA-nya bertahan dari proses pemanasan dan diambil oleh bakteri galur II-R. DNA galur III-S mengandung gen yang membentuk kapsul perlindungan. Dilengkapi dengan gen ini, bakteri galur II-R menjadi terlindung dari sistem kekebalan inang dan dapat membunuhnya. Verifikasi DNA sebagai prinsip pentransformasi ini dilakukan dalam percobaan oleh Avery, McLeod dan McCarty dan oleh Hershey dan Chase.

Ada transforming factor. DNA merupakan Senyawa Khas Kromosom Pembuktian pertama dilakukan dengan cara pewarnaan kromosom dalam studi mikroskopik. Seorang ahli kimia dari Jerman Robert Feulgen, telah menunjukan bahwa bila DNA dipanaskan dengan asam fuchsin akan timbul warna merah tua yang mengikat. Percobaan tersebut dilaksanankan di dalam tabung reaksi dan sepuluh tahun kemudian hasil penemuan Feulgen diterapkan pada sel hidup. Ternyata perlakuan itu tidak merusak sel atau jaringan, kromosom muncul dengan warna yang jelas dan bagian selnya tidak berwarna. Kekhasan DNA pada kromosom yang sebelumnya telah diakui sebagai organel tempat gen, mendorong orang untukl menyimpulkan bahwa DNA merupakan bahan dasr penyusun gen.Replikasi DNAReplikasi adalah peristiwa sintesis DNA. Saat suatu sel membelah secara mitosis, tiap-tiap sel hasila pembelahan mengandung DNA penuh dan identik seperti induknya.Dengan demikian, DNA harus secara tepat direplikasi sebelum pembelahan dimulai.Replikasi DNA dapat terjadi dengan adanya sintesis rantai nukleotida baru dari rantai nukleotida lama.Proses komplementasi pasangan basa menghasilkan suatu molekul DNA baru yang sama dengan molekul DNA lama sebagai cetakan.

Kemungkinan terjadinya replikasi dapat melalui tiga model.

  1. Model konservatif yaitu dua rantai DNA lama terpisah dan rantai yang berfungsi sebagai cetakan untuk dua rantai DNA baru.

  2. Model semikonservatif yaitu dua rantai DNA lama terpisah dan rantai baru disintesis dengan prinsip komplementasi pada masing – masing rantai DNA lama tersebut.

  3. Model dispertif yaitu beberapa bagian dari kedua rantai DNA lama digunakan sebagai cetakan untuk sintesis rantai DNA baru.

Dari ketiga model replikasi tersebut, model semikonservatif merupakan model yang tepat untuk proses replikasi DNA. Replikasi DNA semikonservatif ini berlaku bagi organisme prokariot maupun eukariot. Perbedaan replikasi antara organisme prokariot dengan eukariot adalah dalam hal jenis dan jumlah enzim yang terlibat, serta kecepatan dan kompleksitas replkasi DNA. Pada organisme eukariot, peristiwa replikasi terjadi sebelum pembelahan mitosis, tepatnya pada fase sintsis dalam siklus pembelahan sel. Isolasi DNADNA juga dapat diisolasi, baik pada manusia maupun pada tumbuhan. DNA manusia dapat diisolasi melalui darah. Darah manusia terdiri atas plasma darah, globulus lemak, substansi kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen, nitrogen dan karbon dioksida). Plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (platelet). Komponen darah yang diisolasi yaitu sel darah putih. Sel darah putih dijadikan pilihan karena memiliki nukleus, di mana terdapat DNA di dalamnya. DNA pada tumbuhan juga dapat diisolasi, contohnya pada tumbuhan bawang merah (Allium cepa) dan pada pisang (Musa sp.) (Kimball 2005: 8; Kent & Carr 2001: 317)Fungsi dan peranan DNA adalah untuk menentukan sifat – sifat organisme. Timbul pertanyaan bagaimana caranya DNA dapat berperan dalam proses kehidupan?. Dalam sel DNA berperan dengan cara mengandilkan proses pembentukan rantai protein. Protein merupakan salah satu senyawa penting dalam kehidupan organisme. Protein terdapat dalam berbagai bentuk seperti enzim, protein pengangkut, protein cadangan, antibodi, hormon dan sebagainya.

 

RNA ( ribonucleic acid) atau asam ribonukleat merupakan makromolekul yang berfungsi sebagai penyimpan dan penyalur informasi genetik.RNA sebagai penyimpan informasi genetik misalnya pada materi genetik virus, terutama golongan retrovirus. RNA sebagai penyalur informasi genetik misalnya pada proses translasi untuk sintesis protein. RNA juga dapat berfungsi sebagai enzim ( ribozim ) yang dapat mengkalis formasi RNA-nya sendiri atau molekul RNA lain.

Sruktur dari RNA merupakan rantai tungga polinukleotida. Setiap ribonukleotida terdiri dari tiga gugus molekul, yaitu:

  1. 5 karbon

  2. Basa nitrogen yang terdiri dari golongan purin (yang sama dengan DNA) dan golongan pirimidin yang berbeda yaitu sitosin (C) dan Urasil (U).
  3. Gugus fosfat Purin dan primidin yang berkaitan dengan ribose membentuk suatu molekul yang dinamakan nukleosida atau ribonukleosida, yang merupakan precursor dasar untuk sintesis DNA. Ribonukleosida yang berkaitan dengan gugus fosfat membentuk suatu nukleosida.

RNA merupakan hasil transkripsi dari suatu fragmen DNA, shingga RNA merupakan polimer yang jauh lebih pendek dibandingkan DNA.Tipe RNARNA terdiri dari tiga tipe, yaitu mRNA ( messenger RNA ) atau RNAd ( RNA duta ), tRNA ( transfer RNA ) atau RNAt ( RNA transfer ), dan rRNA ( ribosomal RNA ) atau RNAr ( RNA ribosomal ).RNAdRNAd merupakan RNA yang urutan basanya komplementer dengan salah satu urutan basa rantai DNA.RNAd membawa pesan atau kode genetik (kodon) dari kromosom (di dalam inti sel) ke ribosom (di sitoplasma).Kode genetik RNAd tersebut kemudian menjadi cetakan utnuk menetukan spesifitas urutan asam amino pada rantai polipeptida.RNAd berupa rantai tunggal yang relatif panjang.

Sifat yang membedakan DNA dan RNA

  • Gula yang menyusun: DNA: Deoksiribosa, dan RNA: Ribosa.

  • Bentuk normal: DNA: ds dan ss (ds=double stranded, ss=single stranded), dan RNA: ss

  • Basa purin: DNA: Guanin, Adenin, dan RNA: Guanin, Adenin
    Basa pirimidin: DNA: Timin, Sitosin ,dan RNA: Urasil, Sitosin

  • Jenis/macam: DNA: Hanya satu, dan RNA: ada 3:RNAt, RNAd, RNAr

  • Tempat: DNA: Inti, dan RNA: Inti Sitoplasma dan Ribosom.

  • Kadar: DNA: Tetap, dan RNA: Berubah, tergantung aktifitas sintesis protein.

 

Denaturasi

Denaturasi merupakan proses lepasnya ikatan hidrogen dari untai double helix DNA (untai ganda) menjadi singgle (untai tunggal).

Penyebab denaturasi DNA:

  • Temperatur (diatas temperatur normal)

Semakin tinggi temperatur menyebabkan semakin cepat lepasnya ikatan hidrogen dari untai double DNA menjadi untai tunggal. Semakin lama waktu pemanasan, semakin banyak ikatan hidrogen yang lepas. Untuk mempertahankan untai tunggal agar tetap menjadi untai tunggal, maka setelah dipanaskan diatas suhu normal langsung dimasukkan dalam es (karena dibawah suhu normal)

  • Sinar X (cahaya yang kuat)

  • Enzim

  • Asam dan Basa kuat

Penyebab lama denaturasi:

  • Panjangnya untai DNA

  • Jumlah Guanin dan Sitosin

Semakin banyak guanin dan sitosin, maka semakin lama proses denaturasi karena membutuhkan suhu yang tinggi dan waktu yang lama.

 

Re-Naturasi

Re-Naturasi merupakan proses penggabungan/bergabungnya untai tunggal DNA menjadi untai double dari proses bergabungnya basa komplemen yaitu guanin dengan sitosin dan adenin dengan timin.

Penyebab Re-Naturasi:

  • Temperatur (suhu kamar 25°C – 33°C)

 

Denaturasi termal dan renaturasi

Di atas telah disinggung bahwa beberapa senyawa kimia tertentu dapat menyebabkan terjadinya denaturasi asam nukleat. Ternyata, panas juga dapat menyebabkan denaturasi asam nukleat. Proses denaturasi ini dapat diikuti melalui pengamatan nilai absorbansi yang meningkat karena molekul rantai ganda (pada dsDNA dan sebagian daerah pada RNA) akan berubah menjadi molekul rantai tunggal.

Denaturasi termal pada DNA dan RNA ternyata sangat berbeda. Pada RNA denaturasi berlangsung perlahan dan bersifat acak karena bagian rantai ganda yang pendek akan terdenaturasi lebih dahulu daripada bagian rantai ganda yang panjang. Tidaklah demikian halnya pada DNA. Denaturasi terjadi sangat cepat dan bersifat koperatif karena denaturasi pada kedua ujung molekul dan pada daerah kaya AT akan mendestabilisasi daerah-daerah di sekitarnya.

Suhu ketika molekul asam nukleat mulai mengalami denaturasi dinamakan titik leleh atau melting temperature (Tm). Nilai Tm merupakan fungsi kandungan GC sampel DNA, dan berkisar dari 80 ºC hingga 100ºC untuk molekul-molekul DNA yang panjang.

DNA yang mengalami denaturasi termal dapat dipulihkan (direnaturasi) dengan cara didinginkan. Laju pendinginan berpengaruh terhadap hasil renaturasi yang diperoleh. Pendinginan yang berlangsung cepat hanya memungkinkan renaturasi pada beberapa bagian/daerah tertentu. Sebaliknya, pendinginan yang dilakukan perlahan-lahan dapat mengembalikan seluruh molekul DNA ke bentuk rantai ganda seperti semula. Renaturasi yang terjadi antara daerah komplementer dari dua rantai asam nukleat yang berbeda dinamakan hibridisasi.

Struktur tangga berpilin (double helix) DNA

Dua orang ilmuwan, J.D.Watson dan F.H.C.Crick, mengajukan model struktur molekul DNA yang hingga kini sangat diyakini kebenarannya dan dijadikan dasar dalam berbagai teknik yang berkaitan dengan manipulasi DNA. Model tersebut dikenal sebagai tangga berplilin (double helix). Secara alami DNA pada umumnya mempunyai struktur molekul tangga berpilin ini.

Model tangga berpilin menggambarkan struktur molekul DNA sebagai dua rantai polinukleotida yang saling memilin membentuk spiral dengan arah pilinan ke kanan.  Fosfat dan gula pada masing-masing rantai menghadap ke arah luar sumbu pilinan, sedangkan basa N menghadap ke arah dalam sumbu pilinan dengan susunan yang sangat khas sebagai pasangan – pasangan basa antara kedua rantai. Dalam hal ini, basa A pada satu rantai akan berpasangan dengan basa T pada rantai lainnya, sedangkan basa G berpasangan dengan basa C. Pasangan-pasangan basa ini dihubungkan oleh ikatan hidrogen yang lemah (nonkovalen). Basa A dan T dihubungkan oleh ikatan hidrogen rangkap dua, sedangkan basa G dan C dihubungkan oleh ikatan hidrogen rangkap tiga. Adanya ikatan hidrogen tersebut menjadikan kedua rantai polinukleotida terikat satu sama lain dan saling komplementer. Artinya, begitu sekuens basa pada salah satu rantai diketahui, maka sekuens pada rantai yang lainnya dapat ditentukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

amonia dalam perairan kolam budidaya November 5, 2010

Posted by sin9gih in Mikrobiologi.
1 comment so far

Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Walaupun amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di suatu perairan, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan perairan.

Bagaimana Amonia Berkembang dalam kolam budidaya?

Amonia biasanya berasal dari sisa metabolisme dikeluarkan oleh koi, ikan mas dan ikan kolam lainnya. Tidak mungkin untuk sepenuhnya menghapus amonia di dalam air karena siklus dimana ikan feed dan mengeluarkannya limbah.

Amonia dihasilkan dari protein yang mengandung rantai asam amino, asam amino mengandung nitrogen – senyawa kimia berbahaya bagi ikan. Amonia dikatakan untuk hadir dalam makanan ikan dan limbah ikan.

kolam Alam dan danau kecil kemungkinannya untuk memiliki masalah amoniak karena volume tinggi air yang mengalir melalui. Tingkat amonia di tambak alami secara praktis nol. Namun, masalah amonia lebih sering terjadi di kolam taman buatan manusia dengan ikan terlalu banyak dan lingkungan alami.

pemberian pakan yang berlebiahan  pada ikan dan filtrasi biologis yang tidak memadai dapat memperburuk masalah amoniak dalam tambak. Ada dua jenis di kolam: amonia, yang berbahaya dan amonium, yang kurang beracun. Amonium biasanya mengkonversi menjadi amonia dan ion hidrogen dan sebaliknya. Ketika ini terjadi, pH air kolam dan perubahan suhu keseimbangan kolam.

konsentrasi Amoniak dalam kondisi pH yang stabil masih bisa melampiaskan malapetaka di kolam Anda, terutama jika suhu air tinggi. Taman kolam dengan tingkat pH 9, terutama mereka dengan volume besar kolam ganggang hijau menyebabkan, alkalinitas kekurangan. Akumulasi ganggang di kolam juga memicu fluktuasi tingkat pH kolam. Ini adalah tempat sterilisasi UV mengambil di untuk memerangi tingkat amonia berlebih dari kolam Anda.

Bagaimana cara mengontrol amonia dalm kolam budidaya?

Beberapa penelitian mengklaim bahwa 3% sampai 4% dari makanan ikan koi diekskresikan dalam air kolam keluar sebagai amonia. Salah satu solusi terbaik untuk mengelola masalah amoniak dalam kolam taman Anda adalah dengan menggunakan kolam filter biologis, dengan mempertimbangkan ukuran dan beban kolam ikan. Filter kolam harus kokoh dan cukup besar untuk menampung volume ikan sekali mereka tumbuh dan menjadi lebih besar.

Para Nitrosomonas dan bakteri menguntungkan Nitrorobacter bertanggung jawab atas kerusakan amonia menjadi nitrat umumnya dikenal sebagai proses nitrifikasi. Kolam filter biologis meniru aktivitas nitrifikasi, sehingga mengurangi tingkat amonia. Untuk membuat siklus nitrifikasi sukses, harus ada cukup oksigen dalam kolam. Biasanya kolam taman tidak mengandung oksigen melimpah itulah sebabnya dianjurkan untuk menggunakan air terjun cascading atau pompa kolam di taman Anda kolam untuk aerasi maksimal.

Berikut adalah dua persamaan tentang bagaimana dan Nitrobacter bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak menjadi nitrit dan nitrat.

Bakteri Nitrosomonas: 55NH4 + + 76O2 + 109HCO3-= C5H7O2N + 54NO2-+ 57H2O + 104H2CO3
Nitrobacter bakteri: 400NO2-+ NH4 + + 4H2CO3 + HCO3-+ 195O2 = C5H7O2N + 3H2O + 400NO3-

Cara lain untuk mengatasi masalah amonia membatasi makanan yang diberikan kepada ikan. Seperti apa yang telah dikatakan berulang kali, makanan ikan merupakan sumber utama amoniak, sehingga mengurangi kuantitas makanan ikan akhirnya dapat membantu mengatur tingkat amonia di kolam. Bisa juag dengan cara pembuatan teknik aerasi dasaran dimana airdasar kolam dapat terkuras.

ikan Nila (Oreochromis niloticus) November 3, 2010

Posted by sin9gih in budidaya.
2 comments

ikan Nila adalah ikan yang banyak dibudiyakan oleh pembudidaya ikan konsumsi, karena ikan ini mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan reproduksinya yang tergolong cepat, ikan ini mempunyai toleransi yang baik terhadap salinitas, ph, suhu dan DO dibandingkan ikan-ikan budidaya lainnya. Ikan ini tergolong omnivora yaitu memakan segalanya . . .

Ikan nila merupakan jenis ikan tilapia yang telah lama dikosumsi oleh masyarakat secara luas sehingga menjadi salah satu komoditi unggulan dari perikanan budidaya.

Menurut asal-usulnya  silsilah ikan nila diberi nama Tilapia para ahli ikan mengelompokan ikan tilapia dalam tiga genus dengan karakterristik sebagai berikut : pertama Genus Tilapia adalah golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larvanya dalam mulut induknya, melainkan pada suatu tempat (substrat). Termasuk golongan ini adalah Tilapia rendalli. Kedua adalah genus Sarotherodon golongan tilapia yang mengerami telur dan larvanya dalam mulut induk betina maupun jantan. Yang termasuk golongan ini adalah Sarotherodon galilaeus dan yang ketiga Genus Oreochromis adalah golongan tilapia yang mengerami telur dan larvanya hanya dalam induk betina. Yang termasuk golongan ini adalah Oreochromis niloticus, O. Mossambicus (Rukamana 2003;hidayatullah 2010).

para pembudidaya biasanya memberikan lumut yang diakibatkan oleh blooming plankton disebuah kolam kepada ikan Nila ini, biasanya pembudidaya sering menjadikan ikan ini sebagai pengontrol argulus pada ikan Koi, ikanb Mas dan sejenisnya karena ikan ini omnivora. Tentunya dengan ukuran dan jumlah perbandingan yang sesuai.

Ikan nila memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan,mengingat pasar banyak yang menyukai ikan ini. pada tahun 2010 harga 1000 ekor ikan nila ukuran 2cm adalah 40.000 rupiah. nilai ini akan berlipat ganda sesuai dengan ukuran ikan,  20 indukan ikan ini dalam satu kolam dapat menghasilkan 50-100 larva ikan setiap minggunya.

klasifikasi ikan Nila

Natura – nature
Mundus Plinius – physical world
Naturalia
Biota
Domain Eukaryota – eukaryotes
Kingdom Animalia C. Linnaeus, 1758 – animals
Subkingdom Bilateria (Hatschek, 1888) Cavalier-Smith, 1983 – bilaterians
Branch Deuterostomia Grobben, 1908 – deuterostomes
Infrakingdom Chordonia (Haeckel, 1874) Cavalier-Smith, 1998
Phylum Chordata Bateson, 1885 – chordates
Subphylum Vertebrata Cuvier, 1812 – vertebrates
Infraphylum Gnathostomata auct. – jawed vertebrates
Class Osteichthyes Huxley, 1880
Subclass Actinopterygii – ray-finned fishes
Infraclass Actinopteri
Superdivision Neopterygii
Division Halecostomi
Subdivision Teleostei
Infradivision Elopocephala
Cohort Clupeocephala
Subcohort Euteleostei
Infracohort Neognathi
Division Neoteleostei
Subdivision Eurypterygii
Infradivision Ctenosquamata
Superorder Acanthopterygii
Series Percomorpha
Order Perciformes
Suborder Labroidei
Family Cichlidae – cichlids
Genus Oreochromis
Oreochromis niloticus (C. Linnaeus, 1758)
Oreochromis niloticus baringoensis Trewavas, 1983
Oreochromis niloticus cancellatus (Nichols, 1923)
Oreochromis niloticus eduardianus (Boulenger, 1912) – tilapia
Oreochromis niloticus filoa Trewavas, 1983
Oreochromis niloticus niloticus (C. Linnaeus, 1758) – Mozambique tilapia
Oreochromis niloticus sugutae Trewavas, 1983
Oreochromis niloticus tana Seyoum & Kornfield, 1992
Oreochromis niloticus vulcani (Trewavas, 1933)

Pengertian Plankton daN klasifkasinya November 2, 2010

Posted by sin9gih in budidaya.
1 comment so far

Plankton dapat didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudra, laut, dan air tawar Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.plankton merupakan pakan alami dari sebuah ekosistem perairan

Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.

Plankton terutama dibagi menjadi fungsional yang luas (atau tingkat trofik) kelompok:

Plankton juga sering digambarkan dalam hal ukuran. Biasanya divisi berikut digunakan:

Group Kelompok Size range ( ESD ) Ukuran rentang ( ESD )
Megaplankton > 2×10 −2 m (20 + mm) misalnya ubur-ubur , ctenophores , salps dan pyrosomes (pelagis Tunicata ); Cephalopoda
Macroplankton 2×10 −3 →2×10 −2 m (2–20 mm) misalnya Pteropods , Chaetognaths ; Euphausiacea ( krill ); Medusae , ctenophores , salps , doliolids dan pyrosomes (pelagis Tunicata ); Cephalopoda
Mesoplankton 2×10 −4 →2×10 −3 m (0.2 mm-2 mm) , misalnya copepoda , Medusae , Cladocera , Ostracoda , Chaetognaths , Pteropods , Tunicata ; Heteropoda
Microplankton 2×10 −5 →2×10 −4 m (20-200 µm ) besar eukariotik protista ; paling fitoplankton ; Protozoa (Foraminifera); ciliates , Rotifera , remaja metazoansCrustacea ( copepoda nauplii)
Nanoplankton 2×10 −6 →2×10 −5 m (2-20 µm) kecil eukariotik protista ; Kecil Diatom , Kecil flagellata , Pyrrophyta , Chrysophyta , Chlorophyta ; Xanthophyta
Picoplankton 2×10 −7 →2×10 −6 m (0.2-2 µm) Chrysophyta kecil eukariotik protista , bakteri ; Chrysophyta
Femtoplankton < 2×10 −7 m (< 0.2 µm) aut virus
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.