jump to navigation

Kultur Zooplankton December 6, 2010

Posted by sin9gih in plankton.
trackback

Kultur Zooplankton
Sejarah dimulainya kultur pakan alami dilakukan oleh Allen dan Nelson pada tahun 1910, dengan kulture diatom untuk pakan Invertebrata (Ryther and Goldman, 1975).
Adapun beberapa glongan dari zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami dan perlu dibudidayakan sebagai pakan alami burayak diantaranya adalah :
1. Brachionus sp.
2. Kopepoda (Cyclop sp., Acartia sp.)
3. Diaphanosoma sp.
4. Artemia sp.
5. Cacing rambut
6. Daphnia sp.
7. Moina sp.
8. Larva chironomus
9. Infusoria

(Susanto,2010).
1. Budidaya Infusoria


Infusoria adalah salah satu kelas dari philum Protozoa. Dalam kelas Infusoria ini kita mengenal subkelas Ciliata, yaitu kelompok hewan-hewan bersel satu yang berbulu getar (silia). Beberapa jenis Ciliata yang sering kita dengar adalah Paramaecium caudatum, Colpoda cicullus, Didinium nasutum, dan colpidium campylum.

Infusoria umumnya hidup di air tawar, misalnya di sawah-sawah yang banyak jeraminya. Namun ada juga diantaranya yang hidup di air laut. Makananya terdiri dari bakteri, protozoa lain yang lebih kecil, ganggang renik, ragi dan detritus yang halus. Oleh karena itu Infusoria biasanya menghuni perairan-peraiaran yang tercemar, yang sedang mengalami proses pembusukan yang berat.
Paramecium relatif berukuran besar (80 – 350 mikron). Dengan mata telanjang nampak seperti bintik putih yang berrgerak-gerak. Bentuknya yang mirip sandal sehingga banyak yang menyebutnya binatang sandal. Seluruh permukaan tubuhnya berbulu getar dan dipakai juga sebagai alat gerak, muluitnya berupa lekukan yang terletak pada ujung tubuh yang lancip.
Colpoda tubuhnya sedikit pipih, cembung pada bagian punggung dan datar pada bagian perut. Lubang mulut sel mengrah ke depan dengan dikelilingi bulu getar. Didinium berbentuk agak bulat panjang, dengan bulu getar tersusun dalam rangkaian. Ujung depan tubuhnya mempunyai bangunan seperti krucit yang menonjol. Sedangkan Colpidium berbentuk lonjong dengan lubang mulut sel terletak ditengah-tengah tubuh.
Untuk pengembangbiakan bibit Infusoria (khususnya Ciliata) dapat di jumpai di alam, dengan cara menggunakan pipet panjang, beujung halus dan berbola penyedot yang besar. Karena Infisoria suka bereang –renang bebas di antara akar-akar tanaman air (seperti Teratai dan Eceng gondok), lagi pula ia tidak suka terhadap sinar matahari langsung.

Dengan alat tersebut kita meyedot air langsung pada sarangnya. Air yang telah disedot ditampung dibotol dan diamati di mikroskop apakah terdapat bibit Infusoria atau tidak.Untuk mempermudah pengamatan Ciliata yang bergerak lincah perlu dihambat dengan serabut kapas, serabut kertas lensa, agar-agar, selatin, atau tragakan. Selain itu dapat juga digunakan metil selulose (10 g metil selulose dalam 90 ml air suling). Apabila kita sudah mendapatkan bibitnya selanjutnya dapat kita tularkan dalam media panangkaran.Untuk penangkaran bibit tersebut, kita dapat menggunakan air rebusan jerami. Media tersebut dibuat dengan merebus 70 g jerami kering yang telah dipotong kedalam air suling selama 15 menit. Setelah dingin kita saring dan diencerkan dengan air suling lagi sampai volume 1,5 L.

Selain air rebusan jerami, kita juga dapat menggunkan media lain seperti air rebusan kacang panjang, air rebusan kecambah, air rebusan daun selada, atau air beras. Setelah kita mengetahui media dan bibitnya, maka media yang telah kita buat diencerkan lagi dari 10 ml ke 100 ml kemudian dituangkan ke cawan petri dan bibit Ciliata yang sudah ada kita masukan. Cawan petri ditutup dengan kain sutra dan disimpan ditempat yang gelap dengan suhu berkisar 280 C. Setelah 1-2 minggu biasanya bibit telah berkembang menjadi banyak.

Ciliata yang sudah banyak inilah yang kita gunakan sebagai pakan dari burayak-burayak ikan yang kita pelihara, terutama burayak yang sedang beralih makanan dari fitoplankton ke zooplanktone. Apabila medium bididaya sampai berbau busuk, maka perlu penggantian air. Air yang lama kita buang perlahan dengan selang secara bertahap, yang kemudian kita masukan air baru dengan menggunakan selang juga, sampai volumenya kembali seperti volume awal.

2. Budidaya Brachionus


Branchionus adalah hewan renik panktonik termasuk dalam philum Trochelminthes, kelas Rotatoria (rotifera) subkelas Monogononta, ordo Notomatida, subordo Hydatinia, family Branchiodae. Beberapa jenis yang kita kenal antara lain adalah Brannchionus plicatilis, B. pala, B. angularis, B. mollis, B. kuadratis, dan B. puncatus.

Ukuran tubuhnya antara 50-300 mikron dengan struktur tubuh yang sangat sederhana. Ciri khas yang digunakan untuk penaman Rotatoria atau Rotifera adalah terdapatnya suatu bangunan yang disebut korona. Korona ini bentuknya bulat dan berbulu getar, yang memberikan gambaran seperti sebuah roda, sehingga dinamakan Rotifera.

Secara alami Branchionus suka memakan jasad-jasad renik yang lebih kecil dari pada dirinya. Antara jenis jantan dan betina terdapat perbedaan bentuk yang menylok, dimana yang jantan ukurannya lebih kecil dari betina. Perkembangbiakan secara partenogenesis dan dalam 8-12 hari dapat menghasilkan sebanyak 5 butir telur.

Hewan ini dapat ditemukan diperairan tawar, payau, atau laut yaitu tergantung jenisnya. Penangkapan hewan ini bisa menggunakan plankton net. Setelah didapat kita tempatkan pada tempat pembibitan agar menjadi banyak. Tempat pembibitan kita buat dari air rebusan kotoran kuda atau pupuk kandang lainnya. Mula-mula kita rebus 800 gr kotoran kuda kering kedalam 1 L air. Setelah mendidih selama 1 jam kita dinginkan dan disaring. Air saringan kita encerkan dengan air hujan yang telah di rebus dengan volume dua kali lipat rebusan kotoran kuda. Media yang sudah jadi kita masukkan kebotol ukuran 1 galon dan kita tulari bibit protozoa dan ganggang renik sebagai pakan Branchionus, seelah 7 hari baru kita masukkan bibit Branchionus. Biasanya bibit akan berkembang baik setelah mencapai waktu 1-2 minggu.

Cara lain untuk pembibitan yaitu dengan cara menenmpatkannya kedalam medium air hijau (green water) yang sudah terdapat fitoplanktonnya (Chlorella dan Tetraselmis). Setelah beberapa hari maka akan berkambang menjadi lebih banyak dan siap digunakan sebagai pakan burayak.

3. Budidaya Kutu Air

Kutu air termasuk dalam udang-udangan renik berfilum Arthopoda, kelas Crustacea, subkelas Entomostraca, ordo Phylopoda, subordo Cladocera. Contoh yang terkenal adalah Moina (100-1000 mkron) dan Daphnia (1000-5000 mikron). Diantara udang-udangan lainnya, kutu air termasuk yang paling primitif.

Ciri umumnya adalah bentuknya gepeng dari samping kesampaing. Dinding tubuh membentuk lipatan yang menutupi bagian tubuh pada kedua belah sisinya, sehingga nampak seperti kerang-kerangan. Diatas tubuh bagian belakang pada cangkang membentuk kantong yang berfungsi untuk tempat penmpungan dan perkembangan telurnya.
Kutu air (khususnya Moina dan Daphnia) hidup pada air tawar, jarang yang hidupnya di laut yaitu Podon dan Evadne. Makananya berupa tumbuh-tumbuhan renik dan detritus dengan cara menggerakkan kaki-kakinya yang pipih. Gerakan tersebut menimbulkan arus yang membawa makanan sampai dekat mulutnya.
Hewan ini biasa hidup pada suhu 22-3o C dengan pH 6,6 – 7,4. Umur biota ini dapat mencapai 30 hari dan setiap 2 hari sekali beranak yang kurang lebih jumlanya 33 ekor untuk Moina sedangkan Untuk Daphnia hanya sampai 12 hari dimana setiap 1-2 hari bisa beranak sampai 29 ekor.
Untuk mendapatkan bibit, kita bisa membelinya pada peternak kutu air yang sekarang sudah diperjual belikan. Biasanya pada Balai Budidaya dan Panti pembenihan udang dan ikan.
Untuk mengamati ada tidaknya bibit disuatu perairan, bisa menggunakan lempengan putih yang kita benamkan ke air. Dengan latar belakang putih, kutu air akan tampak seperti kumpulan awan.Pengamatan akan lebih mudah jika kita mengamatinya pada pagi hari yang cerah. Bibit kemudian ditempatkan pada media penangkarang yang terbuat dari air tawar yang sudah dimasukkan potongn jerami kering dan pupuk kandang masing-masing 0.2 kg/m2 tapi ditunggu setalah berwarna kecoklat-coklatan yang mengindikassikan fitoplankton sudah tumbuh pada media tersebut sebagai pakannya.Penangkapan bibit harus pagi- pagi dengan peralatan sebuah seser terbaut dari kain saringan plankton. Garis tengah seser 20-25 cm bertangkai 2 m. Pengamatan kita lakukan disekitar kayu-kayu terapung, tunggul pohon atau tanaman yang sedang membusuk. Setelah kita menemukan tempat hidupnya, kita harus segera menangguknya dengan seser. Pada waktu menagguk, kita lakukan sambil membuat olakan sehingga kutu air yang berada dibawah akan naik keatas.
Hasil tangkapan ditempatkan pada ember berisi air tawar 20 L, karena kutu air sensitif terhadap panas maka kita perlu sedia es batu sebagai pendinginnya. Wadah ditutup dan pada tutupnya diberi lubang-lubang.
Bibit yang kita tangkap segera kita masukkan ke bak penangkaran yang telah kita sediakan. Secara berkala (1-2 kali dalam seminggu) air medianya kita pupuk lagi dengan pupuk kandang dengan ukuran yang sama seperti waktu pertama. Apabila kepadatan sudah mencapai 4000 ekor / L, maka kita sudah dapat memanennya yang biasanya dicapai antara 7-10 hari. Apabila hasil panen kita banyak sehingga tdak habis sekali pakai, maka kita bisa menyimpannya pada lemari es “freezer” bukan refrigerator.

4. Budidaya Artemia

Artemia atau “Brine Shrimp” adalah sejenis udang-udangan primitif yang termasuk dalam philum Anthropoda, kelas Crustacea, subkelas Branchiopoda, ordo Anastroca, famili Artemiidae. Hewan ini hidup planktonik pada perairan berkadar garam tinggi ( antara 15-300 permil). Suhu yang dikehendakipun tinggi (antara 25-30o C) degan oksigen terlarut sekitar 3 mg/Ldan pH antara 7,3 – 8,4.

Artemia dewasa mampu mencapai panjang 1-2 cm dengan berat sekitar 10 mg. Anaknya yang baru menetas (nauplius instar 1) panjangnya mencapai 0,4 mm dengan berat sekitar 15 mikrogram. Secara alami makanannya berupa detritus, ragi laut, bakteri, ganggang renik dan biota lainnya yang ukurannya 50 mikron kebawah.

Perkembangbiakan dengan biseksual dan partenogenesis. Perkembangan pada jenis biseksual harus melalui perkawainan antara betina jantan. Pada kedua jenis perkembangbiakan tersebut bisa terjadi ovovivipar maupun ovipar.
Ovoviviparitas biasaya terjadi pada keadaan lingkungan yang cukup baik dengan kadar garam kurang lebih 150 permil dengan kandungan oksigen yang cukup baik. Sedangkan oviparitas terjadi apabila keadaan lingkungan nya buruk. Telur yang bercangkang tebal itu memang disiapkan untuk keadaan lingkungan yang buruk, bahkan juga kekeringan. Sementara itu embrio yangberada dalam cangkang beristirahat (diapauze), jika kaeadaan sudah menjadi baik kembali maka telur akan menetas menjadi burayak, yang selanjutnya akan hidup normal seperti biasa.
Artemia dewasa dapat hidup hingga 6 bulan, sementara induk- induk betinanya akan beranak atau bertelur setiap 4-5 hari sekali. Setiap kali dapat menghasilkan 50-300 ekor anak atau telur. Anak-anak Artemia akan menjadi dewasa setelah berumur 14 hari.Setelah Artemia meninggalkan sejumlah telur, sementara itu keadaan lingkungan tetap saja memburuk maka Artemia rela untuk mati. Tetapi jenis Artemia tidak akan punah karean apabila lingkungan sudah membaik kembali, telur-telur itu akan beramai-ramai untuk menjadi induvidu baru.
Untuk mendapatkan bibit artemia, kita dapat membeli bibit berupa kista (telur artemia) yang diawetkan di kaleng. Dewasa ini yang sering berkembang di indonesia adalah telur Artemia merk Greatwall dari Cina yang merupakan jenis partenogenesis dan merk Bio Marine dari Great Salt Lake yang merupakan jenis biseksual dari Amerika.
Apabila kita telah mendapatkan telurnya, tahap untuk mendapatkan bibit yaitu kita harus menetaskan telur tersebut terlebih dahulu secara khusus. Anaknya yang baru menetas (nauplius) akan dijadikan sebagai sebagai bibit untuk penebaran.
Untuk menetaskan Artemia kita perlu wadah bening dan dengan alas (dasar) berbentuk krucut, sedangkan ukurannya boleh bermacam-macam mulai dari kapsits 3 L sampai 75 liter. Dengan media air laut biasa (kadar garam kurang lebih 30 permil), jumlah kepadatan telur yang kita tetaskan antara 5-7 g/L. Dengan suhu 25-30o C sedangkan kadar oksigennya harus lebih dari 2 mg/L. Oleh karena itu medianya harus kita udarai, baik dengan blower, kompresor ataupun aerator yang disambungkan dengan selang plastik dan tidak usah menggunakan batu aerasi dengan pengudaraan secukupnya saja. Selain untuk aerator, aliran udara tesebut juga berfungsi untuk mengaduk telur artemia yang berada dibawah agar tersebar merata.
Untuk merangsang proses penetasan kita gunakan lampu TL untuk pencahayaan yang di tempatkan disamping wadah dengan pencahayaan sekitar 1.000 luks. Dalam waktu 24-36 jam setalah pemasukan telur, biasanya telur-telur itu sudah menetas menjadi anak artemia (nauplius). Selagi burayak masih belum perlu makan (kurang dari 24 jam sesudah menetas), harus kita tangkap. Sebelum penangkapan, pengudaraan harus dimatikan terlebih dahulu. Kemudian bagian atas wadah penetasan kita tutup dengn kain atau plastik hitam, sedangkan bagian bawahnya kita sinari. Setelah itu kita tunggu 5-10 menit.
Dengan cara demkian, maka cangkang telurnya yang telah kosong akan mengapung ke permukaan, sedangkan anak Artemia akan mengumpul ke bawah, karena tertarik dengan pencahayaan. Selanjutnya anak artemia kita sedot dan kita tampung agar dan kita cuci (rendam) agar kotoran hilang. Anak Artemia yang sudah bersih itulah yang akan dijadikan sebagai bibit pada Budidaya massal (Herihery,2010).

Comments»

1. sin9gih - December 6, 2010

silahkan tinggal Comment gan . . buat tambah” ilmu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: